Selasa, 04 Mei 2010

Wisata Indramayu

Kendati tergolong kaya akan ragam potensi seni dan budaya, Kabupaten Indramayu termasuk “kering” dalam pengembangan pariwisata. Kondisi itu dimungkinkan karena kabupaten dengan luas daerah 204.011 hektare dan memiliki panjang pantai 114 kilometer tersebut, nyaris tidak memiliki kawasan yang layak jual sebagai potensi wisata atau wilayah yang berpanorama indah.


ika disesuaikan dengan kondisi alamnya, yang paling memungkinkan untuk dikembangkan adalah wisata pantai. Karena tingkat abrasi yang tinggi dikawasan pantai, investasi dan pemanfaatan pengembangan pariwisata menjadi terlalu berisiko.

Terbukti objek wisata Pantai Tirtamaya di Kecamatan Juntinyuat yang pernah dikembangkan Pemkab Indramayu dari waktu ke waktu kawasannya kian menyempit akibat abrasi.

Relatif langkanya kawasan wisata yang menarik untuk dikunjungi, disamping menjadikan Kab. Indramayu tidak termasuk sebagai daerah tujuan wisata, baik lokal maupun regional, juga menjadikan sebagian besar warganya lebih memilih ke luar kota atau mengunjungi objek wisata yang ada di daerah atau kabupaten lain.

Banyaknya orang Indramayu yang menjadi pelancong dan membelanjakan uangnya di daerah lain untuk berwisata, tentu saja mengundang keprihatinan tersendiri. Terlebih bila pelarian uang dari belanja wisatawan lokal tersebut bisa direm atau ditekan dengan menariknya guna dibelanjakan di daerah sendiri.

Terkait dengan kondisi itu, Bupati Indramayu H. Irianto M.S. Syafiuddin yang dikenal sebagai figur pemimpin bertalenta bisnis karena latar belakangnya sebagi seorang pengusaha, mulai menjajaki kemungkinan diwujudkannya satu kawasan wisata yang dapat melayani minimal masyarakatnya sendiri.

Untuk itu, dari hasil pengkajian yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kab. Indramayu, digagas dan diwujudkanlah kawasan wisata terpadu yang diberi nama Kawasan Wisata Bojongsari.

Menurut Kepala Kantor Budpar E. Trisna Hendarin, konsep pembangunan Kawasan Wisata Bojongsari dimaksudkan untuk mengembangkan Waduk Bojongsari yang memanfaatkan bantaran Sungai Cimanuk Lama.

“Waduk bojongsari yang berada di dalam Kota Indramayu ini sebelumnya dibangun sebagi penampung air dari gelontoran Sungai cimanuk. Yakni untuk menampung air baku PDAM, sekaligus mengembangkan olah raga air, seperti dayung,” kata E. Trisna Hendarin di kantor Budpar Indramayu, belum lama ini.

Trisna Hendarin yang pada kesempatan itu didampingi Kasi Pariwisata Netty Rosnetty menyebutkan, Kawasan Wisata Bojongsari yang dibangun di areal seluas 20 hektare di Kota Indramayu mencakup Kel. Bojongsari, Kepandean dan Desa Terusan.

Infrastruktur wisata yang dibangun didalamnya antara lain, water boom, arena bermain, lapangan parikir, museum, agrowisata mangga, galeri seni, panggung terbuka, club house, dan lansekap. “Hal ini dimaksudkan untuk membuat pengunjung merasa rileks dan nyaman di lokasi wisata tersebut,” ungkapnya.

Terlengkap

Hendarin memastikan, prasarana wisata yang ada seperti water boom dan komponen wisata lain yang saat ini tengah dalam perampungan konstruksinya, berdasarkan serangkaian survei tergolong yang terbesar dan terlengkap dibandingkan kawasan lainnya di wilaya III Cirebon. Hingga diyakini, bisa menjadi magnet wisata baru. Dimana nantinya tidak hanya mampu menarik minat wisatawan lokal, tetapi juga regional untuk mengunjungi kawasan itu.

Bahkan, seperti diungkapkan Kasi Pariwisata Netty Rosnetty, selain museum dan gedung Puspa Bangsa yang bisa menjadi tempat digelarnya berbagai acara, fasilitas lain yang kini tengah dibangun di Kawasan Wisata Bojongsari adalah drive in cinema.

“Jadi bisa dibilang Kawasan Wisata Bojongsari merupakan kawasan wisata terpadu dan relatif lengkap fasilitasnya. Kendati seluruh komponen baru selesai dibangun tahun 2009, namun tahun 2008 sebagian akan mulai dioperasikan,” ujar Netty.

Menyinggung tentang pendanaan, Kawasan Wisata Waduk Bojongsari sepenuhnya dibiayai dari APBD Kab. Indramayu yang dikucurkan secara sepenuhnya dibiayai dari APBD Kab. Indramayu yang dikucurkan secara bertahap sejak tahun 2006 dan secara keseluruhan diproyeksikan menelan anggaran RP 20 miliar, termasuk untuk
pembebasan tanah.

Tentang pengelolaan, baik E. Trisna Hendarin mau pun Netty Rosnetty menyatakan Pemkab Indramayu belum membuat keputusan mengenai lembaga yang akan menangani Kawasan Wisata Bojongsari tersebut nantinya.

Namun, agar kepastian pendapatan dari kawasan wisata yang dibangun dapat terjaga, termasuk perawatan serta profesionalisme pengelolaaannya dapat diandalkan, maka kemungkinan pengelolaannya diserahkan kepada swasta.

Adapun soal kemungkinan bisa balik modal dari besarnya dana APBD yang dipertaruhkan, Trisna menjelaskan jika 10% saja dari penduduk Indramayu yang kini berjumlah 1,7 juta jiwa datang setahun sekali ke kawasan wisata itu, pemasukannya diyakini dapat membantu pendapatan asli daerah (PAD).

Menanggapi rencana projek tersebut, anggota DPRD Indramayu, Erah Delima secara terpisah sangat menyambut baik. Sebab menurut dia, masyarakat Indramayu relatif mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan akan rekreasi. Hal itu terjadi karena belum tersedianya fasilitas wisata sehingga memaksa mereka pergi ke objek wisata lain diluar kota dengan biaya jauh lebih besar.

“Kalau berbagai fasilitas memang menarik dan pengelolaannya profesional, saya kira orang juga akan senang untuk datang. Bahkan bukan hanya berasal dari Indramayu, tetapi bisa dari berbagai daerah lain yang di wilayahnya tidak dijumpai fasilitas wisata serupa,” ungkapnya.

Namun, menurut Erah Delima, agar berbagai seni tradisi tidak kehilangan kesempatan untuk hidup, harus ada upaya mempertahankan dan mengembangkannya. Artinya, berbagai ragam seni budaya itu harus mendapat tempat di Kawasan Wisata Bojongsari hingga keberadaannya memberi manfaat lebih besar. Berbagai jenis seni tradisional itu, antara lain upacara ngarot, nadran, ngunjung, sintren, tarling, genjring, dan akrobat.

Sumber :
PR dalam http://denpatrol.com, dalam :
http://wisatapasundan.com/wisata-yuk/indramayu/indramayu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar